Islam di Filipina

1 comment


Filipina Negeri Muslim yang Dimurtadkan: Dahulu 98% Muslim, Kini Muslim Tersisa 5%
- Selasa, 3 Mei 2016 

Islamedia – Filipina merupakan negara di kawasan Asia tenggara yang pada zaman dahulu kala memiliki populasi Muslim sangat besar, yakni mencapai angka 98%. Filipina saat ini masuk dalam wilayah Kesultanan Brunei yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
Namun kondisi itu berubah drastis ketika kehadiran penjajah Spanyol pada tahun 1565, secara perlahan umat Islam mengalami penindasan dan secara terus menerus jumlah muslim terus mengalami penurunan yang signifikan. Segala hal yang berkaitan dengan Islam dihilangkan secara sistematis oleh penjajah Spanyol
Ibukota Filipina yang saat ini bernama Manila merupakan hasil skenario jahat penjajah Spanyol. Dahulu nama kota ini adalaha Amanilah yang diambil dari bahasa Arab “Fi Amannillah” yang memiliki arti “dibawah perlindungan Allah SWT”.
Saat itu kaum muslim Filipina bertekad menjadikan kota Amanillah (Manila) menjadi kota Islam terbesar se Asia Tenggara. Mereka pun sudah menerapkan Syariat Islam selama berabad-abad di bawah pengaruh Negara Khilafah Islam di Timur Tengah. Pekerjaan kaum muslim Filipina saat itu kebanyakan adalah pedagang, petani, dan nelayan.
Kedatangan penjajah Katolik Spanyol pada tahun 1565 dengan misi Gold, Glory dan Gospel, telah merubah semuanya. 4 tahun kemudian atau tahun 1569 kota Amanillah direbut oleh penjajah Spanyol. Para penduduk Muslim kota tersebut mengalami penindasan dan penganiyayaan yang berujung kepada kematian. Selain itu penjajah Spanyol juga dengan menghalalkan berbagai macam cara melakukan ancaman kekerasan dan memaksa warga memeluk Kristen Katolik. Gerakan Kristenisasi saat itu sangan massif dilakukan di wilayah Filipina Utara dan Tengah.
Muslim Filipinan yang tidak mau untuk memeluk Katolik kemudian melarikan diri ke wilayah selatan Filipina untuk menyelamatkan akidahnya. Mereka berhasil membuat pertahanan yang kuat dan terus melawan Spanyol lewat perang Gerilya. Dari sinilah kemudian penjajah Spanyol memberi nama kaum muslim Filipina dengan nama orang Moro. Nama ini diambil dari sebutan kepada keturunan Arab Spanyol yang beragama Islam yang dahulu menguasai Andalusia ( Spanyol ) yaitu orang Moor.

Aksi Demonstrasi Muslimah Moro Menuntut Keadilan
Penjajah Spanyol tidak tinggal diam, mereka merekrut orang-orang Indo Kristen (orang Filipina yang sudah dikristenkan) untuk berperang melawan kaum muslim yang sebenarnya masih saudara sebangsa mereka.
Perjuangan kaum muslim Filipina baik melawan penjajah Spanyol maupun dengan orang Indo Kristen, terus berlangsung sampai tahun 1898.
Saat ini Kristen berhasil menjadi agama mayoritas di Filipina, negeri yang dahulu 98% warganya muslim telah berubah negara kristen. Populasi pemeluk Islam hanya bersisa 5%, populasi kristen 90%, sisanya memeluk Budha dan atheis. [islamedia] 

 Muslim di Filipina Minoritas di Negeri Sendiri
 Islam masuk ke Filipina sebelum penjelajah Spanyol menginjakkan kaki di tanah negeri ini. Itu dibuktikan dengan adanya laporan seorang pengembara Cina pada zaman Dinasti Yuan, 1280-1368. Muslim di Filipina biasanya dikenali sebagai masyarakat Moro. Mereka umumnya berdiam di Pulau Mindanao (pulau kedua terluas di Filipina), Kepulauan Sulu, Palawan, Basilan, dan pulau-pulau sekitarnya. Secara geografis, gugusan pulau-pulau ini berada di selatan Filipina, sedangkan bagian utara negeri ini adalah gugusan Kepulauan Luzon. 
             Sejumlah literatur menyebutkan, istilah 'Moro' merujuk kepada kata Moor, Mariscor, atau Muslim. Kata Moor berasal dari istilah latin, Mauri, sebuah istilah yang sering digunakan orang-orang romawi kuno untuk menyebut penduduk wilayah Aljazair barat dan Maroko. Ketika bangsa Spanyol tiba di wilayah Filipina dan menemukan sebuah bangsa yang memiliki agama dan adat istiadat seperti orang-orang Moor di Spanyol Andalusia, mereka mulai menyebut orang-orang di Filipina dengan istilah Moro. Dalam sejarahnya, Islam masuk ke Filipina, tidak lama setelah Islam berkembang di dunia Melayu. Islam masuk ke wilayah Filipina Selatan, khususnya kepulauan Sulu dan Mindanao pada 1380 M yang dibawa oleh seorang tabib dan ulama Arab bernama Karimul al Makhdum (Syeikh Makhdum). Banyak pedagang dan dai Muslim yang mengikuti Syeikh Makhdum. Mereka berdiam di sana dan mengajarkan Islam kepada penduduk setempat. 
             Ini berarti, kedatangan Islam di Filipina jauh lebih awal daripada kedatangan kolonial Barat, khususnya bangsa Spanyol yang masuk ke kawasan itu pada 1566 M.  Adalah Raja Baguinda, seorang pangeran dari Minangkabau, Sumatra Barat, tercatat sebagai orang pertama yang menyebarkan ajaran Islam di kepulauan tersebut. Raja Baguinda tiba di Kepulauan Sulu setelah berhasil mendakwahkan Islam di Kepulauan Zamboanga dan Basilan. Atas kerja kerasnya, Kabungsuwan Manguindanao, raja terkenal dari Manguindanao, pun akhirnya memeluk Islam. Dari sinilah awal peradaban Islam di wilayah ini mulai dirintis.  Pada masa itu, sudah dikenal sistem pemerintahan dan peraturan hukum, yaitu Manguindanao Code of Law, atau Luwaran yang didasarkan atas Minhaj dan Fathu-i-Qareeb, Taqreebu-i-Intifa dan Mir-atu-Thullab. Manguindanao kemudian menjadi seorang Datuk yang berkuasa di Provinsi Davao di bagian tenggara pulau Mindanao. Setelah itu, Islam disebarkan ke pulau Lanao dan bagian utara Zamboanga serta daerah pantai lainnya. Sepanjang garis pantai kepulauan Filipina semuanya berada di bawah kekuasaan pemimpin-pemimpin Islam yang bergelar datuk atau raja. 
              Versi lain menyebutkan, Islam datang di Kepulauan Filipina jauh sebelum kedatangan Villalobos--seorang penjelajah Spanyol yang memasuki Filipina pada 1542. Islam sudah dikenal di beberapa daerah di Filipina pada abad ke-8 sampai 10, yakni tatkala Islam mengembangkan sayap ke segenap penjuru dunia. Ketika itu, saudagar-saudagar Arab sudah menginjakkan kaki ke kawasan Asia Tenggara, termasuk ke Kepulauan Filipina. Ini dibuktikan dengan adanya laporan seorang pengembara Cina pada zaman Dinasti Yuan (1280-1368).  Disebutkan bahwa pada kurun ini Kepulauan Jolo di barat daya Mindanao, sudah menjadi pusat perdagangan, disinggahi saudagar-saudagar Arab, Muangthai, Indonesia, dan India. Di Jolo, kebudayaan Islam berkembang pesat sementara penduduk asli Filipina lainnya, termasuk Mindanao, masih terbilang primitif. Para saudagar Arab pun memperlihatkan pengaruh besar. Mereka pula yang mula-mula mendirikan kesultanan Islam.     Syeikh Abu Bakar, orang Arab kelahiran Makkah, pada 1450 mendirikan pemerintahan di Buansa (Jolo). Di bawah pemerintahan Abu Bakar, pengkajian Islam mulai dilaksanakan secara luas. Lembaga-lembaga politik dibentuk sesuai dengan garis-garis Islam. Para dai dikirim ke luar Buansa untuk mengislamkan penduduk di sekitarnya. Awal abad ke-15, Raja Baguinda mendirikan kesultanan di tepi Sungai Kotabato. Islam terus menjalar ke utara dan pada abad ke-16 pengaruhnya sampai ke Kepulauan Visayas, Teluk Manila. Kemudian, di sanalah terjadi bentrokan dengan orang Spanyol. 
               Sejak masuknya orang-orang Spanyol ke Filipina, penduduk pribumi telah mencium adanya maksud lain dibalik ekspedisi ilmiah Ferdinand de Magellans. Spanyol menaklukkan wilayah utara dengan mudah tanpa perlawanan berarti, tapi tidak demikian halnya dengan wilayah selatan. Mereka justru menemukan penduduk wilayah selatan melakukan perlawanan sangat gigih, berani, dan pantang menyerah. Tentara kolonial Spanyol harus bertempur mati-matian dengan jarak kilometer demi kilometer untuk mencapai Mindanao-Sulu. Kesultanan Sulu pada akhirnya takluk pada 1876 M.  Sekalipun gagal menundukkan Mindanao dan Sulu, Spanyol tetap menganggap kedua wilayah itu merupakan bagian dari teritorialnya. Pada 1898 M, Spanyol kemudian menjual Filipina kepada Amerika Serikat melalui Traktat Paris. Amerika datang ke Mindanao dengan menampilkan diri sebagai seorang sahabat yang baik dan dapat dipercaya. Ini dibuktikan dengan ditandatanganinya Traktat Bates (20 Agustus 1898 M) yang menjanjikan kebebasan beragama, kebebasan mengungkapkan pendapat, serta kebebasan mendapatkan pendidikan bagi Bangsa Moro. 
                Namun, traktat tersebut dianggap hanya taktik mengambil hati orang-orang Islam agar tidak memberontak, karena pada saat yang sama Amerika tengah disibukkan dengan pemberontakan kaum revolusioner Filipina utara pimpinan Emilio Aguinaldo. Terbukti setelah kaum revolusioner kalah pada 1902 M, kebijakan AS di Mindanao dan Sulu bergeser kepada sikap campur tangan langsung dan penjajahan terbuka. Setahun kemudian (1903 M), Mindanao dan Sulu disatukan menjadi wilayah Provinsi Moroland dengan alasan untuk memberadabkan (civilizing) rakyat Mindanao dan Sulu. Malapetaka
Sejatinya, kedatangan bangsa Eropa dan Amerika, boleh dikata, merupakan malapetaka bagi Moro. Migrasi secara besar-besaran tak bisa dihindari. Konflik budaya, kekuasaan, ekonomi, dan kepentingan-kepentingan lainnya, membuat Mindanao panas. Buntutnya, muncul persoalan multikompleks. Golongan Islam merasa bahwa mereka adalah pewaris sah Mindanao dan daerah-daerah yang pernah dikuasai Islam. Sementara itu, para migran--umumnya beragama berbeda--mayoritas telah merasa secara sah pula mendiaminya. 
                Muncul pula kecurigaan bahwa pemerintah terlalu berpihak sebelah. Orang Moro yang kebanyakan hidup bertani tak percaya pada pemerintah Filipina. Mereka lebih percaya pada para datuk yang menjadi pemimpin lokal. Segala undang-undang dan hukum yang dikeluarkan pemerintah cenderung diabaikan. Soal tanah, misalnya, mereka lebih mendengar fatwa datuk. Sesuai tradisi, tanah adalah kepunyaan marga (clan) dan diatur oleh datuk. Datuk pula yang berhak mengendalikan hukum adat, seperti tradisi peradilan agama, poligami, perkawinan, dan perceraian.  Sebaliknya, pemerintah menganggap umat Islam Mindanao sengaja mengisolasi diri dari golongan lain. Mereka dituduh antipati terhadap pemerintah, bahkan cenderung menunjukkan sikap bermusuhan. Pemerintah merasa telah berusaha semaksimal mungkin untuk membangun Mindanao. Misalnya, dengan mengadakan perbaikan di bidang kesempatan kerja, ekonomi, sosial, dan budaya. Inilah, agaknya, yang perlu diurai: mendekatkan kesamaan dalam perbedaan. 
               Kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah pada akhirnya melahirkan perlawanan baru. Dibentuklah apa yang disebut sebagai Muslim Independent Movement (MIM) pada 1968 dan Moro Liberation Front (MLF) pada 1971. Perkembangan berikutnya, MLF sebagai induk perjuangan Bangsa Moro akhirnya terpecah: Moro National Liberation Front (MNLF) pimpinan Nurulhaj Misuari dan Moro Islamic Liberation Front (MILF) pimpinan Salamat Hashim. Namun, dalam perjalanannya, ternyata MNLF pimpinan Nur Misuari mengalami perpecahan kembali menjadi kelompok MNLF-Reformis pimpinan Dimas Pundato (1981) dan kelompok Abu Sayyaf pimpinan Abdurrazak Janjalani (1993).  Kini, melihat kondisi Muslim di Filipina Selatan, ada yang menyebutnya sebagai minoritas di negeri sendiri. bur/berbagai sumber

Copyright © 2015 republika.co.id, All right reserved

Islam di Vietnam

1 comment


Islam di Vietnam: Orang-orang Cham di Negeri Komunis
Rep: rosyid hakiim/ Red: Heri Ruslan
wikispaces.com 

Bendera Vietnam (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, Suara azan terdengar berkumandang dari gang-gang padat penduduk di kota Ho Chi Minh, Vietnam. Sejumlah pria dengan penutup kepala putih dan sarung berjalan menuju masjid. Pemandangan yangi sangat umum di kota-kota di Indonesia itu juga terlihat di negeri komunis, Vietnam.

Kaum Muslim di Vietnam hanyalah sebuah komunitas kecil. Sebagian besar dari mereka tinggal di daerah yang biasa disebut Distrik VIII. Dahulu,  ketika wilayah itu masih bernama Saigon, daerah tersebut merupakan tempat generasi keturunan Kerajaan Campa tinggal. Sisa-sisa kerajaan itu masih ada di bagian tengah dan selatan Vietnam. Masyarakat dari kerajaan itu sering disebut sebagai orang-orang Cham.
Menurut kantor berita AFP, pada tahun 2010 lalu, jumlah penduduk Muslim di daerah tersebut sekitar 1.300 jiwa. Namun, menurut laman religiouspopulation.com, jumlah umat Islam di kota Ho Chi Minh City mencapai 5.000 orang.  Rumah makan yang menawarkan makanan halal dan masjid-masjid raya serta madrasah juga banyak ditemukan. Beberapa dari murid-murid di madrasah itu sering dikirim ke Malaysia untuk melanjutkan sekolah. Secara umum, total populasi Muslim, terutama dari komunitas Cham, di negara yang berpenduduk 86 juta orang itu sekitar 100 ribu orang. Namun, menurut hasil survei yang dilakukan The Pew Research Center pada Oktober 2009, jumlah umat Islam di Vietnam mencapai 71.200 jiwa. Anga itu naik dibandingkan data hasil sensus pada 1999 yang hanya 63.146 jiwa. Sekitar 77 persen umat Islam di Vietnam menetap di Wilayah Tenggara, yakni 34 persen tersebar di provinsi Ninh Thuan Province,  24 persen di provinsi Binh Thuan, dan sebanyak 9,0 persen di kota Ho Chi Minh.  Sekitar  22 persen menetap di wilayah Delta Sungai Mekong, khususnya  di provinsi An Giang Province.  Sisanya, sekitar 1,0 persen Muslim tersebar di wilayah-wilayah lainnya di negeri itu.
Dahulu masyarakat Cham adalah penganut agama Hindu dan telah menguasai bagian tengah dan selatan Vietnam selama ratusan tahun. Seiring waktu, mereka memeluk agama Islam.  Pada akhir abad ke XV Kerajaan Campa tergusur ke arah selatan dan lama-lama pengaruhnya semakin menghilang. Saat ini sekitar 80 persen masyarakat Cham sudah menjadi Muslim. Berdasarkan data dari pemerintah, Islam adalah agama dengan pemeluk terkecil dari enam agama yang berkembang di Vietnam. Kegiatan keagamaan masih dikontrol oleh pemerintah Vietnam yang berhaluan komunis. Namun, kegiatan ibadah bagi masing-masing agama berkembang dengan baik.  Sebagai agama dengan jumlah pemeluk terkecil, kaum Muslim di Vietnam memilih untuk terlalu menonjol. ‘’Kami hanya mengamalkan dan menjalankan ajaran agama Islam. Kami (Muslim Vietnam) tak peduli dengan urusan berbau politik,’’ ujar Haji Mousa, 52 tahun, pengelola sebuah madrasah seperti dikutip laman muslimvillage.com.  Mousa fasih berbahasa Melayu dan mengenal bahasa Arab.
Menurut Mousa, imam-imam yang tampil sebagai pemimpin umat Islam, lebih banyak belajar di Vietnam. Beberapa imam dari luar negeri, terutama dari Malaysia, juga sering datang ke negaranya. Kini, di negara itu juga sudah ada Alquran dengan terjemahan bahasa Vietnam. Saat ini, setidaknya ada sekitar 16 masjid di kota Ho Chi Minh. Kebanyakan dari masjid tersebut didanai oleh negara-negara Muslim. Salah satunya, yaitu Masjid Jamiul Anwar yang dibangun pada  2006. Masjid itu didanai oleh Uni Emirat Arab dan Palang Merah.
Meskipun mendapatkan dukungan dari Timur Tengah, namun hubungan erat umat Muslim di Vietnam justru lebih terjalin dengan Malaysia dan Indonesia. Karena mereka merasa lebih dekat secara kultural. Hubungan erat itu dimulai sekitar 20 tahun yang lalu, saat Vietnam secara bertahap membuka diri secara ekonomi. Seorang Muslim bernama Hachot, mengaku dirinya tak merasa menjadi bagian dari masyarakat Vietnam yang lebih luas, meskipun pemerintah telah membantu membangun kembali rumahnya beberapa tahun yang lalu. Menurut dia, sikap kelompok mayoritas etnis Kinh terhadap Cham oun amat beragam. ‘’Beberapa Kinh mengatakan Cham kotor,’’ ujarnya seperti dikutip laman muslimvillage.com. Mereka keberatan dengan sikap  Muslim yang mengharamkan daging babi. Menurut laman dakwatuna.com, Islam yang berkembang di Vietnam adalah beraliran Sunni dan Bani. Muslim Sunni yang tersebar di seluruh penjuru negara itu bermazhab Syafi’i. Muslim Bani berkembang di daerah Ninh Thuan dan Binh Thuan. Aliran ini tidak terlalu populer karena mengadopsi pengaruh budaya domestik dan memiliki pengaruh kuat dari India.
Bahkan aliran Bani kerap dianggap sedikit menyimpang dari ajaran Islam yang benar. Laman itu menyebutkan bahwa penyimpangan yang dilakukan seperti menjadikan pemimpin untuk shalat mewakili jamaah, tidak ada perhatian dari para pemimpin dengan jamaah mereka sehingga menyebar di tengah mereka ajaran-ajaran syirik. Penyimpangan akidah ini disebabkan oleh sedikitnya ulama dan dai. Pada 1959, masyarakat Vietnam, terutama di wilayah Saigon, mulai melihat kembali ajaran Islam yang benar. Ketika itu, di antara umat Muslim terjadi perkenalan dan dialog tentang Islam. Sehingga muncul pemahaman tentang hakikat Islam yang sesungguhnya. Mereka kemudian mulai memperbaiki diri dan mengajak masyarakat Muslim di negara itu untuk kembali ke ajaran Islam yang benar. Meskipun pada awalnya mendapatkan penolakan, akan tetapi usaha pembaharuan ini lama kelamaan semakin diterima. Muslim di Vietnam pun sudah banyak  yang menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, Makkah.
Sertifikasi Halal
Muslim memang minoritas di Vietnam, namun sertifikasi halal diberlakukan ketat di negeri ini. Negeri yang perekonomiannya kini mulai menggeliat ini mulai menyasar ekspor ke negara-negara mayoritas Muslim, menyasar 1,83 miliar Muslim di seluruh dunia. Mohammed Omar, auditor utama Badan Sertifikasi Halal Vietnam (Viet Nam HCA), mengatakan pasar halal global, memiliki nilai sebesar 2,77 triliun dolar AS.
"Sertifikasi halal adalah skema global untuk produk atau jasa. Ini adalah proses independen untuk memverifikasi bahan halal dan haram dan kondisi kemurnian diperlukan untuk memenuhi standar Alquran dan Syariah,"  ujar Omar.


Islam di Kamboja

2 comments


PM Kamboja Buka Masjid Agung di Phnom Penh
Posted on March 27, 2015



SEBUAH masjid agung bergaya Ottoman dikabarkan telah dibuka secara resmi oleh Perdana Menteri Kamboja Hun Sen. Peresmian ini dihadiri oleh lebih dari 1.000 orang di ibukota, pada hari Jumat (27/3/2015).
Masjid yang bernama Al-Serkal Haram ini terletak di kawasan Boeng Kak Phnom Penh. Masjid ini didanai oleh Eisa Bin Nasser Bin Abdullatif Alserkal, seorang pengusaha Emirat. Masjid ini menggantikan masjid yang pernah berdiri di sana sebelumnya, yang diruntuhkan pada tahun 2012.
Ahmad Yahya, presiden Organisasi Pembangunan Komunitas Muslim Kamboja, menggambarkan masjid itu sebagai masjid “yang terbesar dan paling indah”. Dikutip World Bulletin, Yahya menambahkan pembangunan masjid telah menjadi penanda penting dalam kisah komunitas Muslim di Kamboja. Masjid yang dibangun dengan dana sejumlah 2 juta USD ini, telah menarik ratusan orang yang berkerumun di luar.
“Hun Sen mengatakan kepada orang banyak bahwa ia bangga kepada Muslim Kamboja,” kata Yahya.  Muslim Kamboja disebut sebagai Cham dan pernah menjadi sasaran rezim Maois Khmer Merah pada 1970-an.
“Dia mengatakan umat Islam di Kamboja tidak memiliki masalah, tidak ada pertempuran satu sama lain, tidak ada diskriminasi seperti apa yang kita lihat antara Syiah dan Sunni Muslim di negara-negara lain … tapi dia sangat bangga dengan umat Islam di Kamboja, sama bangganya terhadap umat Buddha,” kata Yahya.
Mengacu pada desain masjid yang bergaya Ottoman, Yahya mengatakan hal itu telah menjadi hit dan digemari banyak orang, khususnya  bagi orang-orang Muslim di Kamboja. [ds/islampos]

Islam di Thailand

2 comments


Kehidupan Islam di Negeri Gajah Putih
By Yuliana Purnama 23 April 2011 

Alhamdulillaah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in
Seperti telah kita ketahui bersama, Thailand adalah negara yang sering dikenal sebaga negeri gajah putih. Negara ini juga terkenal sebagai tujuan wisata para turis dari seluruh dunia. Bidang pertanian juga merupakan salah satu andalan dari negeri ini. Hampir seluruh hasil pertanian dan perkebunan yang berasal dari Thailand merupakan produk unggulan.
Secara umum, penduduk Thailand beragama Budha. Menurut sensus penduduk pada tahun 2000, mayoritas warga Negara Thailand beragama Budha (94,6%), kemudian Islam (4,6%), dan sisanya adalah Kristen dan Katolik [1]. Namun saat ini angka pemeluk agama Islam dipercaya melebihi angka 10%, atau sekitar 7,4 juta dari 67 juta jiwa penduduk Thailand . Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pemeluk agama Islam di negeri ini terus meningkat.

Gambaran Umum Kehidupan Islam
Sebagian besar muslim di negeri ini tinggal di Thailand bagian selatan, yang banyak berada di propinsi Yala, Narattiwat, dan Pattani. Secara budaya dan penampakan fisik, mereka lebih dekat kepada masyarakat Melayu. Jika kita melihat sejarah yang telah berlalu, wilayah-wilayah tersebut tadinya bukan merupakan bagian dari Thailand. Namun sejak tahun 1808, Thailand menjajah wilayah tersebut dan menjadikannya sebagai wilayah kekuasaannya. Tentu saja banyak pertentangan yang terjadi karena Thailand merupakan negeri Budha yang menganggap raja sebagai keturunan dewa. Sehingga banyak ritual syirik yang bertentangan dengan Islam itu sendiri. Pemberontakan pun pernah terjadi, dan hingga saat ini pun masih ada pertentangan-pertentangan yang terjadi karena perbedaan prinsip tersebut.
Walaupun mayoritas muslim ada di bagian selatan Thailand, namun bukan berarti di bagian lain Thailand tidak ada muslim. Katakanlah Bangkok, ibukota Thailand. Di Bangkok, kita dengan mudah dapat menemui masjid. Walaupun mayoritas muslim di Bangkok adalah pendatang dari bagian selatan Thailand (secara fisik dapat dikenali dengan mudah, karena berdarah melayu), namun cukup banyak juga muslim yang berdarah Thailand asli (biasanya berkulit putih). Hal ini menunjukkan dakwah Islam berjalan dengan baik di Bangkok.
Apabila kita mendatangi masjid-masjid di Thailand, kita akan menyadari bahwa banyak kemiripan kehidupan muslim di Thailand dan Indonesia. Mayoritas muslim di Thailand adalah sunni bermazhab Syafi’i. Dan secara umum, mereka mirip sekali dengan kaum Nahdliyin yang ada di negeri kita. Dengan mudah kita temui acara dzikir berjama’ah , nasyid, dan berbagai macam shalawat. Setiap masjid pun biasanya memiliki kyai yang diagungkan di situ.
Namun Alhamdulillah, dari kalangan pemuda (kebanyakan mahasiswa) banyak yang rajin menuntut ilmu di manhaj salaf yang mulia ini. Mereka cukup rajin mengadakan kajian-kajian ilmiah di masjid walaupun terkadang bertentangan dengan pengurus masjid itu sendiri. Meskipun mereka berhadapan dengan terbatasnya pustaka yang dapat mereka akses (karena tidak semua bisa berbahasa Arab), namun mereka sangat bersemangat untuk menegakkan Al-Quran dan Sunnah dengan pemahaman para salafus shalih. Mereka pun menampakkan ke-Islam-an mereka dengan terang-terangan. Mereka memelihara jenggot, tidak isbal, bahkan di kampus pun kita terkadang bisa menemui saudari kita yang bercadar. Dan qadarullah, mereka pula-lah yang menjadi salah satu penyebab penulis mendapatkan hidayah untuk istiqomah di manhaj yang mulia ini.

Dukungan Kerajaan Thailand terhadap Islam
Meskipun Thailand merupakan negeri Budha, namun kerajaan cukup mendukung kehidupan Islam para penduduknya. Tanggungjawab urusan mengenai agama Islam di Thailand diemban oleh seorang mufti yang mendapat gelar Syaikhul Islam (Chularajmontree). Mufti ini berada di bawah kementerian dalam negeri dan juga kementerian pendidikan dan bertanggungjawab kepada raja. Mufti bertugas untuk mengatur kebijakan yang berkaitan dengan kehidupan muslim, seperti penentuan awal dan akhir bulan hijriyah.
Mufti membawahi dewan propinsial Islam yang beranggotakan 26 orang dari tiap propinsi. Dan dewan tersebut membawahi sekitar 3494 masjid yang ada di Thailand [2]. Pusat dari kegiatan tersebut berada di Bangkok, yaitu Islamic Center yang terletak di daerah Ramkhamhaeng. Selain itu, di setiap Universitas biasanya terdapat Muslim Student Club. Biasanya kelompok tersebut mendapat tempat khusus yang juga dapat digunakan untuk melaksanakan shalat.
Secara umum, masyarakat Thailand juga sangat toleran terhadap muslim. Mereka cukup peduli dengan makanan yang dapat kita makan, dan mereka juga sangat mudah memberi izin untuk melakukan shalat. Namun karena Thailand merupakan Negara Budha, sehingga hari besar kaum muslimin (Idul Fitri dan Idul Adha) tidak mereka liburkan. Hal ini terkadang menjadi kendala bagi para pelajar atau pegawai yang ingin melaksanakan sholat Ied berjama’ah. Namun biasanya tiap institusi memberikan keringanan untuk “membolos” pada waktu-waktu tersebut.
 Makanan

Banyak orang mengira bahwa mencari makanan halal di Thailand merupakan perkara sulit. Namun kenyataannya, makanan halal merupakan hal yang mudah didapatkan di mana saja. Katakanlah jika kita pergi ke kantin kampus. Biasanya di tiap kompleks kantin ada satu kios makanan halal. Jika kita pergi ke pasar, biasanya ada penjual daging halal yang disembelih secara syar’i. Jika kita ingin makan di warung halal sekalipun, kita cukup mencari masjid yang terdekat. Biasanya di dekat masjid ada perkampungan muslim dan juga penjual makanan halal. Di mall-mall sekalipun biasanya kita dapat menemukan rumah makan halal.
Namun salah satu hal yang membuat muslim di Thailand merasa aman akan ketersediaan makanan halal adalah adanya badan sertifikasi halal yang sangat kuat. Dengan mengakses www. Halal.or.th saja kita sudah dapat menemukan list produk dan restoran halal yang ada di Thailand. Bahkan produk-produk kemasan yang ada di supermarket pun sudah banyak yang bersertifikat halal yang dikeluarkan oleh badan tersebut. Sehingga muslim di Thailand dapat dengan leluasa memilih mana yang bisa dimakan dan tidak.
Salah satu orang yang berjasa di bidang sertifikasi halal ini adalah Winai Dahlan, seorang associate professor di Chulalongkorn University. Beliau merupakan cucu dari KHA Dahlan. Beliau saat ini adalah direktur dari Halal Science Center di universitas tersebut. Beliau sangat giat melakukan promosi mengenai makanan halal ke seluruh dunia. Bahkan bisa dikatakan kemajuan mengenai makanan halal di Thailand sudah selangkah lebih maju dibandingkan Indonesia karena promosi gencar yang mereka lakukan.

Menjadi seorang Muslim di Thailand
Paparan di atas menunjukkan berbagai macam gambaran kehidupan muslim di Thailand. Namun secara umum, hidup menjadi seorang muslim di Thailand penuh dengan perjuangan yang berat.
Seperti kita ketahui bahwa Thailand merupakan negeri yang bebas. Mayoritas penduduknya menyukai kehidupan malam, pergaulan bebas, dan minum minuman keras. Selain itu dentuman musik dapat kita temui di mana saja. Para pemudi pun berpakaian sangat minim. Bagi seseorang yang sedang lemah imannya, tentu saja serbuan kemaksiatan yang ada di lingkungan merupakan tantangan yang berat.
Secara kepercayaan pun, kita dapat menemui praktik syirik tersebar di mana-mana. Hampir di setiap rumah ada kuil kecil di mana mereka meletakkan sesaji. Bahkan biasanya para pedagang pun meletakkan sesaji itu di toko mereka. Pengagungan mereka pada kerajaan pun sudah melampaui batas. Raja dianggap sebagai keturunan dewa sehingga mereka menjadikannya sesembahan. Biksu pun mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa. Mereka akan memberikan apapun jika bertemu biksu, hanya untuk mendapatkan berkat dari mereka. Tentu saja praktik syirik yang bertebaran di seluruh bumi Thailand ini terus bertentangan dengan hati kaum muslimin.
Karena itu, biasanya kaum muslimin di Thailand hidup berkelompok supaya dapat saling menjaga. Di dekat masjid biasanya ada perkampungan muslim. Selain itu, ada juga beberapa daerah di Bangkok yang memiliki persentase penduduk muslim yang cukup besar. Mereka berusaha membuat lingkungan yang baik supaya dapat hidup di luar gelimang kemaksiatan tadi.
Terkadang kelompok-kelompok yang hidup di beberapa daerah tersebut berkumpul karena kesamaan suku. Ada daerah di Bangkok yang bernama Kampung Jawa. Di daerah tersebut, penduduknya merupakan keturunan jawa yang sudah turun temurun tinggal di sana. Di kampung tersebut terdapat Masjid Jawa. Selain itu ada juga Masjid Indonesia. Ada cukup banyak warga keturunan yang berasal dari banyak negara dan membentuk komunitas sendiri. Hal itu tidak lain adalah upaya mereka untuk saling menjaga dari kehidupan budaya yang sangat berbeda dengan nilai Islam. Biasanya mereka sudah lupa dengan bahasa dari negeri mereka masing-masing. Seperti Winai Dahlan yang telah disebutkan sebelumnya, juga tidak bisa berbicara Bahasa Indonesia sama sekali.
Alhamdulillah, demikianlah kehidupan Islam di Negeri Gajah Putih. Barangkali kita tadinya tidak menyangka bahwa kita memiliki saudara-saudara yang terus berjuang hidup sambil mempertahankan aqidahnya di negeri kafir ini. Semoga hal ini membuat kita semua untuk senantiasa bersyukur dan juga semakin bersemangat menuntut ilmu. Mereka dengan segala keterbatasan fasilitas yang ada, masih terus berusaha mencari kebenaran dalam memahami dienul Islam ini. Semoga Allah selalu menjaga saudara-saudara kita ini. Dan semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk kepada kita semua.
Penulis: Fikri Waskito (mahasiswa Chulalongkorn University, Thailand)
Artikel www.muslim.or.id 

Islam di Malaysia

2 comments




Muslim China Ingin Mepertahankan Tradisinya

Sri Lestari Jurnalis BBC Indonesia 
Image caption Masjid Cina Negeri Malaysia didirikan untuk menampung warga keturunan Cina di Malaysia yang menjadi mualaf.
Kaum muslim keturunan Cina di Malaysia mengaku masih mengalami diskriminasi lantaran pemerintah meminta mereka mengganti nama dengan nama Arab atau Melayu ketika memeluk agama Islam.
Di Masjid Negeri Cina Malaka, saya bertemu dengan dua mualaf yang baru pertama menjalankan puasa Ramadan tahun ini, yakni Muhammad Thaufiq Loi Fui Liang dan Ting Swee Keong.
Meski keduanya keturunan Cina, ada perbedaan dalam soal pemilihan nama setelah menjadi mualaf.
Muhammad Thaufiq menambah nama Arab di depan nama aslinya, sedangkan Ting tidak.
“Semua harus diubah. Nama menjadi lain, namun muka masih sama. Di sini orang Malaysia mengatakan jika seseorang masuk Islam disebut masuk Melayu. Kalau saya tak ganti nama, saya tetap Cina,” jelas Ting.
Image caption Presiden MACMA Malaysia Taufiq Yap Yun Hin memutuskan untuk menambah nama Arab di depan nama aslinya.
Meski tak ada aturan tertulis, pergantian nama seseorang yang menjadi mualaf dengan nama Arab atau Melayu merupakan tradisi yang telah berlangsung sejak Malaysia merdeka pada 1957 lalu.
Lim Jooi Soon, pengurus Asosiasi Muslim Cina Malaysia, MACMA Malaka, mengatakan tradisi pergantian nama bagi mualaf ini masih dipraktikkan oleh sejumlah petugas di kantor Majelis Agama di sejumlah negara bagian di Malaysia karena ketidakpahaman mereka.
“Mereka mempraktikkan itu karena tidak memahami. Padahal, kalau kita ikut sunnah Nabi pada zaman Nabi Muhammad SAW, ketika kaum lain masuk Islam, dia tidak meminta orang itu mengganti nama kecuali artinya buruk,” kata Lim.
Dia kemudian mencontohkan tokoh Islam Bilal Al Rabah dari Afrika dan Salman Al Farisi dari Persia.

“Sebelum mereka memeluk Islam dan sesudah mereka masuk Islam, nama mereka sama. Kenapa? Karena memudahkan mereka berdakwah di hadapan bangsa yang sama,” jelas Lim.

Raja-raja yang mencerminkan Dzulqarnain Bag.1

3 comments
Koresh yang Agung
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Rajadiraja Persia, Raja Aryavarta, Raja Anshan, Raja Media, Raja Babel, Raja Sumeria  dan Akkadia, "King of the Four Corners of the World"

Masa kekuasaan  559 SM – 530 SM (30 tahun)
Lahir                                     600 SM or 576 SM
Tempat lahir                                 Anshan, Persi
Wafat                                  4 Desember 530 SM
Tempat wafat                     Along the Syr Darya
Cyrus the Great  adalah pendiri Kekaisaran Persia. Ia memulai kariernya selaku pejabat rendahan di bagian barat daya Iran, dia mendapat banyak kemenangan lewat pertempuran dan menguasai tiga kerajaan besar yaitu;Media, Lydia dan Babilonia. Ia juga menyatukan hampir seluruh daerah Timur Tengah lama menjadi satu negara yang membentang mulai India hingga Laut Tengah. Raja ini disebut namanya dalam ALkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di Alkitab Kristen karena titahnya untuk mengembalikan orang-orang buangan, termasuk bangsa Yahudi, kembali ke tanah air masing-masing, serta mengijinkan orang-orang Yahudi membangun kembali Bait Suci di  Yerusalem (Yesaya 45;13; 2 Tawarikh 36 : 22 36’) Titah itu ditulis antara lain dalam Silinder Koresh, yang ditulis tahun 539 SM dan saat ini disimpan di BritishMuseum, London.

Latar belakang
Koresh (atau Kurush nama Persianya, dalam bahasa InggrisInggris Cyrus) dilahirkan sekitar tahun 576 SM di provinsi Persia (kini Fars), di barat daya Iran. Daerah ini saat itu merupakan provinsi kerajaan Media. Koresh berasal dari keturunan penguasa lokal yang merupakan bawahan Raja Media.

Kudeta Kerajaan Media oleh Koresh
Meskipun ayahnya, Cambyses I, mati tahun 551 SM, Koresh sudah memerintah sejak tahun 559 SM sebagai raja muda. Bersama panglima kerajaan Media yang membelot, Harpagus, Koresh memberontak terhadap raja Astyages mulai musim panas tahun 553 SM, dengan peperangan pertama pada awal tahun 552 SM. Harpagus dan Koresh merebut ibukota Media, Ekbatana, tahun 549 SM, dan menjadi raja atas seluruh tanah Media dan Persia. Raja Asyages diberi ampun dan dijadikan gubernur salah satu propinsi. Pada tahun 546 SM, Koresh resmi memakai gelar "Raja Persia". Pamannya, Arsames, yang menjadi raja kota Persepolis (Parsa) di bawah kerajaan Media, nampaknya dengan damai menyerahkan kekuasaannya kepada Koresh dan menjabat sebagai gubernur Parsa di bawah kekuasaan Koresh. Putra Arsames, Hystaspes (ayah dari DariusI), yang juga sepupu Koresh, dijadikan wakil raja (satrap) dari Parthia dan Phrygia. Jadi Koresh menyatukan kerajaan kembar Akhemeniyah yaitu Parsa dan Anshan menjadi Kekaisaran Persia. Arsames masih hidup saat cucunya Darius I menjadi raja Persia, setelah matinya kedua anak Koresh.

Penyerangan ke Kerajaan Lydia

Croesus on the pyre. Attic  red-figure  Amphora, 500–490 BC, Louvre (G 197)
Saudara ipar Astyages, raja Kroesus dari Lydia, pertama-tama menyerang kota Pteria (sekarang di Turki), rupanya sebagai balas dendam atas kekalahan Astyages. Koresh membawa tentara untuk menyerang Pteria tahun 546 SM. Kroesus mundur ke Sardis, ibukotanya pada keesokan harinya. Koresh kemudian mengepung kota Sardis. Harpagus menasehatkan Koresh untuk menempatkan onta-ontanya di depan tentaranya. Kuda-kuda Lydia tidak terbiasa membau onta, menjadi takut, sehingga Koresh dapat mengalahkan tentara Lydia dengan mudah. Koresh menangkap Kroesus dan menguasai kota Sardis. Menurut penulis sejarah Yunani, Herodotus, Koresh mengampuni Kroesus dan menjadikannya penasehat, namun menurut Tawarikh Nabonidus, raja Lydia dibunuh oleh Koresh.

Penyerangan ke Kerajaan Babilonia

Diproyeksikan ke batas modern, kerajaan Achaemenid di bawah Koresh membentang dari Turki, Israel, Georgia dan Arabia di barat sampai ke Kazakhstan, Kyrgystan, Sungai Indus ( Pakistan) dan Oman di timur. Persia menjadi kerajaan terbesar di dunia.
Tahun 540 SM, Koresh merebut Elam  (Susiana) dan ibukotanya, Susan. Tawarikh Nabonidus, mencatat bahwa sebelum perang itu, Nabonidus memindahkan patung-patung dewa ke dalam ibukota Babilon, sehingga diperkirakan perang dimulai pada musim dingin 540 SM.  Harran Stelae H2 - A, dan Tawarikh Nabonidus  (tahun ke-17) menunjukkan Nabonidus merayakan tahun baru Akitu pada tanggal 1 Nissanu (4 April 539 SM) di Babilon. Di awal Oktober 539 SM, Koresh mengalahkan tentara Babel dalam Perang Opis, dengan sungai Tigris, di utara Babilon. Tanggal 10 Oktober, kota Sippar jatuh tanpa perlawanan berarti. Tanggal 15 Oktober, Gubaru, panglima Koresh, memasuki ibukota Babilon, tanpa perlawanan berarti dari tentara Babel. Herodotus  menjelaskan bahwa tentara Persia menggunakan danau yang dibuat oleh ratu Babel, Nitokris, tadinya untuk melindungi Babilon dari serangan kerajaan Media, untuk membelokkan aliran sungai Efrat, ke dalam kanal sehingga tinggi air tinggal selutut. Ini memudahkan tentara Persia untuk masuk kota melalui sungai pada waktu malam. Hal ini tidak berbeda dengan catatan dalam Kitab Daniel, bahwa raja Belsyazar dibunuh oleh tentara Persia pada waktu malam tanpa peperangan besar (Daniel 5:8). Pada tanggal 29 Oktober, Koresh masuk kota Babilon.

Politik dan pemerintahan
Koresh adalah seorang pemimpin yang punya kebolehan bidang militer. Tetapi itu cuma satu sisi dari seorang manusia. Yang lebih menonjol, mungkin, adalah kebijakan cara memerintahnya. Dia terkenal amat toleran terhadap Agama-agama setempat dan juga adat-istiadat mereka. Dan dia senantiasa menjauhkan diri dari sikap kejam dan ganas seperti lazimnya para penakluk. Orang-orang Babilonia, misalnya, bahkan lebih kentara lagi orang Assyria, telah membunuh beribu-ribu manusia dan mengusir semua penduduk yang dikuatirkan bakal berontak. Misalnya, ketika Babilonia menaklukkan Yudea tahun 586 SM, mereka memboyong orang Yudea ke Babilonia. Tetapi lima puluh tahun kemudian, sesudah Koresh menaklukkan Babilonia, dia beri ijin orang-orang Yahudi kembali ke kampung halamannya. Kalau tidak karena Koresh, rasanya orang-orang Yahudi  itu akan musnah sebagai kelompok yang terasing di abad ke-5 SM.

Akhir hayat
Tulisan kuneiform dari Babilon memberi bukti bahwa Koresh mati sekitar Desember 530 SM, yaitu dari tulisan terakhir mengenai pemerintahannya, (lempengan dari Borsippa tertanggal 12 Agustus 530 SM) dan referensi pertama mengenai pemerintahan putranya, Cambyses II (lempengan dari Babilon tertanggal 31 Agustus 530 SM) yang menggantikannya sebagai raja.

Makam


Makam Koresh di Pasargadea, Iran, sebuah tempat pelestarian dunia (World Heritage Site) oleh UNESCO (2006).
Makamnya terletak di ibukota Pasargadaea (dibangun sekitar 530 SM) yang masih ada sampai sekarang. Penulis sejarah, Strabo dan Arrian mencatat gambaran yang hampir sama tentang makam ini berdasarkan laporan Aristobulus dari Cassandreia, yang atas perintah Iskandar Agung mengunjungi makam ini 2 kali. Menurut Plutarch, batu nisannya bertuliskan.
“ O insan, siapapun engkau dan darimanapun engkau datang, karena aku tahu engkau akan datang, akulah Koresh yang memenangkan kerajaan untuk orang-orang Persia. Karenanya janganlah berkeberatan terhadapku akan sedikit tanah ini untuk menutupi tulang-tulangku. “

Daerah kekuasaan pada puncak kejayaannya

1.Kerajaan Media (wilayah Iran sekarang ini) dan provinsi Persis di barat daya Iran
2.Kerajaan Babilonia di Mesopotamia (wilayah Irak sekarang ini)
3.Suriah dan Palestina
4.Mesir
5.beberapa daerah di timur laut dari kerajaan Media (Asia Tengah), didapatnya dari menaklukkan Massage Tae, suku nomad yang hidup di Asia Tengah sebelah timur laut Kaspia
6.Kerajaan Lidia di Asia Kecil (wilayah Turki sekarang ini)
7.sebagian negara Pakistan dan Afganistan sekarang ini
8.Sedikit daerah India
 Relief yang mengambarkan Khores Agung dengan mahkota bertanduk dua.