Islam di Filipina
- Selasa, 3
Mei 2016
Islamedia – Filipina merupakan negara di
kawasan Asia tenggara yang pada zaman dahulu kala memiliki populasi Muslim
sangat besar, yakni mencapai angka 98%. Filipina saat ini masuk dalam wilayah
Kesultanan Brunei yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
Namun kondisi itu berubah drastis ketika kehadiran
penjajah Spanyol pada tahun 1565, secara perlahan umat Islam mengalami
penindasan dan secara terus menerus jumlah muslim terus mengalami penurunan
yang signifikan. Segala hal yang berkaitan dengan Islam dihilangkan secara
sistematis oleh penjajah Spanyol
Ibukota Filipina yang saat ini bernama Manila
merupakan hasil skenario jahat penjajah Spanyol. Dahulu nama kota ini adalaha
Amanilah yang diambil dari bahasa Arab “Fi Amannillah” yang memiliki arti
“dibawah perlindungan Allah SWT”.
Saat itu kaum muslim Filipina bertekad menjadikan kota
Amanillah (Manila) menjadi kota Islam terbesar se Asia Tenggara. Mereka pun
sudah menerapkan Syariat Islam selama berabad-abad di bawah pengaruh Negara
Khilafah Islam di Timur Tengah. Pekerjaan kaum muslim Filipina saat itu
kebanyakan adalah pedagang, petani, dan nelayan.
Kedatangan penjajah Katolik Spanyol pada tahun 1565
dengan misi Gold, Glory dan Gospel, telah merubah semuanya. 4 tahun kemudian
atau tahun 1569 kota Amanillah direbut oleh penjajah Spanyol. Para penduduk
Muslim kota tersebut mengalami penindasan dan penganiyayaan yang berujung
kepada kematian. Selain itu penjajah Spanyol juga dengan menghalalkan berbagai
macam cara melakukan ancaman kekerasan dan memaksa warga memeluk Kristen
Katolik. Gerakan Kristenisasi saat itu sangan massif dilakukan di wilayah
Filipina Utara dan Tengah.
Muslim Filipinan yang
tidak mau untuk memeluk Katolik kemudian melarikan diri ke
wilayah selatan Filipina untuk menyelamatkan akidahnya. Mereka berhasil membuat
pertahanan yang kuat dan terus melawan Spanyol lewat perang Gerilya. Dari
sinilah kemudian penjajah Spanyol memberi nama kaum muslim Filipina dengan nama
orang Moro. Nama ini diambil dari sebutan kepada keturunan Arab Spanyol yang
beragama Islam yang dahulu menguasai Andalusia ( Spanyol ) yaitu orang Moor.
Aksi
Demonstrasi Muslimah Moro Menuntut Keadilan
Penjajah Spanyol tidak tinggal diam, mereka merekrut
orang-orang Indo Kristen (orang Filipina yang sudah dikristenkan) untuk
berperang melawan kaum muslim yang sebenarnya masih saudara sebangsa mereka.
Perjuangan kaum muslim Filipina baik melawan penjajah
Spanyol maupun dengan orang Indo Kristen, terus berlangsung sampai tahun 1898.
Saat ini Kristen berhasil menjadi agama mayoritas di
Filipina, negeri yang dahulu 98% warganya muslim telah berubah negara kristen.
Populasi pemeluk Islam hanya bersisa 5%, populasi kristen 90%, sisanya memeluk
Budha dan atheis. [islamedia]
Muslim di Filipina Minoritas di Negeri
Sendiri
Islam masuk
ke Filipina sebelum penjelajah Spanyol menginjakkan kaki di tanah negeri ini.
Itu dibuktikan dengan adanya laporan seorang pengembara Cina pada zaman Dinasti
Yuan, 1280-1368. Muslim di Filipina biasanya dikenali sebagai masyarakat Moro.
Mereka umumnya berdiam di Pulau Mindanao (pulau kedua terluas di Filipina),
Kepulauan Sulu, Palawan, Basilan, dan pulau-pulau sekitarnya. Secara geografis,
gugusan pulau-pulau ini berada di selatan Filipina, sedangkan bagian utara
negeri ini adalah gugusan Kepulauan Luzon.
Sejumlah literatur menyebutkan,
istilah 'Moro' merujuk kepada kata Moor, Mariscor, atau Muslim. Kata Moor
berasal dari istilah latin, Mauri, sebuah istilah yang sering digunakan
orang-orang romawi kuno untuk menyebut penduduk wilayah Aljazair barat dan
Maroko. Ketika bangsa Spanyol tiba di wilayah Filipina dan menemukan sebuah
bangsa yang memiliki agama dan adat istiadat seperti orang-orang Moor di
Spanyol Andalusia, mereka mulai menyebut orang-orang di Filipina dengan istilah
Moro. Dalam sejarahnya, Islam masuk ke Filipina, tidak lama setelah Islam
berkembang di dunia Melayu. Islam masuk ke wilayah Filipina Selatan, khususnya
kepulauan Sulu dan Mindanao pada 1380 M yang dibawa oleh seorang tabib dan
ulama Arab bernama Karimul al Makhdum (Syeikh Makhdum). Banyak pedagang dan dai
Muslim yang mengikuti Syeikh Makhdum. Mereka berdiam di sana dan mengajarkan Islam
kepada penduduk setempat.
Ini berarti, kedatangan Islam di
Filipina jauh lebih awal daripada kedatangan kolonial Barat, khususnya bangsa
Spanyol yang masuk ke kawasan itu pada 1566 M.
Adalah Raja Baguinda, seorang pangeran dari Minangkabau, Sumatra Barat,
tercatat sebagai orang pertama yang menyebarkan ajaran Islam di kepulauan
tersebut. Raja Baguinda tiba di Kepulauan Sulu setelah berhasil mendakwahkan
Islam di Kepulauan Zamboanga dan Basilan. Atas kerja kerasnya, Kabungsuwan
Manguindanao, raja terkenal dari Manguindanao, pun akhirnya memeluk Islam. Dari
sinilah awal peradaban Islam di wilayah ini mulai dirintis. Pada masa itu, sudah dikenal sistem
pemerintahan dan peraturan hukum, yaitu Manguindanao Code of Law, atau Luwaran
yang didasarkan atas Minhaj dan Fathu-i-Qareeb, Taqreebu-i-Intifa dan
Mir-atu-Thullab. Manguindanao kemudian menjadi seorang Datuk yang berkuasa di
Provinsi Davao di bagian tenggara pulau Mindanao. Setelah itu, Islam disebarkan
ke pulau Lanao dan bagian utara Zamboanga serta daerah pantai lainnya.
Sepanjang garis pantai kepulauan Filipina semuanya berada di bawah kekuasaan
pemimpin-pemimpin Islam yang bergelar datuk atau raja.
Versi lain menyebutkan, Islam
datang di Kepulauan Filipina jauh sebelum kedatangan Villalobos--seorang
penjelajah Spanyol yang memasuki Filipina pada 1542. Islam sudah dikenal di beberapa
daerah di Filipina pada abad ke-8 sampai 10, yakni tatkala Islam mengembangkan
sayap ke segenap penjuru dunia. Ketika itu, saudagar-saudagar Arab sudah
menginjakkan kaki ke kawasan Asia Tenggara, termasuk ke Kepulauan Filipina. Ini
dibuktikan dengan adanya laporan seorang pengembara Cina pada zaman Dinasti
Yuan (1280-1368). Disebutkan bahwa pada
kurun ini Kepulauan Jolo di barat daya Mindanao, sudah menjadi pusat
perdagangan, disinggahi saudagar-saudagar Arab, Muangthai, Indonesia, dan
India. Di Jolo, kebudayaan Islam berkembang pesat sementara penduduk asli
Filipina lainnya, termasuk Mindanao, masih terbilang primitif. Para saudagar
Arab pun memperlihatkan pengaruh besar. Mereka pula yang mula-mula mendirikan
kesultanan Islam. Syeikh Abu Bakar, orang Arab kelahiran Makkah,
pada 1450 mendirikan pemerintahan di Buansa (Jolo). Di bawah pemerintahan Abu
Bakar, pengkajian Islam mulai dilaksanakan secara luas. Lembaga-lembaga politik
dibentuk sesuai dengan garis-garis Islam. Para dai dikirim ke luar Buansa untuk
mengislamkan penduduk di sekitarnya. Awal abad ke-15, Raja Baguinda mendirikan
kesultanan di tepi Sungai Kotabato. Islam terus menjalar ke utara dan pada abad
ke-16 pengaruhnya sampai ke Kepulauan Visayas, Teluk Manila. Kemudian, di
sanalah terjadi bentrokan dengan orang Spanyol.
Sejak masuknya orang-orang
Spanyol ke Filipina, penduduk pribumi telah mencium adanya maksud lain dibalik
ekspedisi ilmiah Ferdinand de Magellans. Spanyol menaklukkan wilayah utara
dengan mudah tanpa perlawanan berarti, tapi tidak demikian halnya dengan
wilayah selatan. Mereka justru menemukan penduduk wilayah selatan melakukan
perlawanan sangat gigih, berani, dan pantang menyerah. Tentara kolonial Spanyol
harus bertempur mati-matian dengan jarak kilometer demi kilometer untuk
mencapai Mindanao-Sulu. Kesultanan Sulu pada akhirnya takluk pada 1876 M. Sekalipun gagal menundukkan Mindanao dan
Sulu, Spanyol tetap menganggap kedua wilayah itu merupakan bagian dari
teritorialnya. Pada 1898 M, Spanyol kemudian menjual Filipina kepada Amerika
Serikat melalui Traktat Paris. Amerika datang ke Mindanao dengan menampilkan
diri sebagai seorang sahabat yang baik dan dapat dipercaya. Ini dibuktikan
dengan ditandatanganinya Traktat Bates (20 Agustus 1898 M) yang menjanjikan
kebebasan beragama, kebebasan mengungkapkan pendapat, serta kebebasan
mendapatkan pendidikan bagi Bangsa Moro.
Namun, traktat tersebut
dianggap hanya taktik mengambil hati orang-orang Islam agar tidak memberontak,
karena pada saat yang sama Amerika tengah disibukkan dengan pemberontakan kaum
revolusioner Filipina utara pimpinan Emilio Aguinaldo. Terbukti setelah kaum
revolusioner kalah pada 1902 M, kebijakan AS di Mindanao dan Sulu bergeser
kepada sikap campur tangan langsung dan penjajahan terbuka. Setahun kemudian (1903
M), Mindanao dan Sulu disatukan menjadi wilayah Provinsi Moroland dengan alasan
untuk memberadabkan (civilizing) rakyat Mindanao dan Sulu. Malapetaka
Sejatinya, kedatangan bangsa Eropa dan Amerika, boleh dikata, merupakan malapetaka bagi Moro. Migrasi secara besar-besaran tak bisa dihindari. Konflik budaya, kekuasaan, ekonomi, dan kepentingan-kepentingan lainnya, membuat Mindanao panas. Buntutnya, muncul persoalan multikompleks. Golongan Islam merasa bahwa mereka adalah pewaris sah Mindanao dan daerah-daerah yang pernah dikuasai Islam. Sementara itu, para migran--umumnya beragama berbeda--mayoritas telah merasa secara sah pula mendiaminya.
Sejatinya, kedatangan bangsa Eropa dan Amerika, boleh dikata, merupakan malapetaka bagi Moro. Migrasi secara besar-besaran tak bisa dihindari. Konflik budaya, kekuasaan, ekonomi, dan kepentingan-kepentingan lainnya, membuat Mindanao panas. Buntutnya, muncul persoalan multikompleks. Golongan Islam merasa bahwa mereka adalah pewaris sah Mindanao dan daerah-daerah yang pernah dikuasai Islam. Sementara itu, para migran--umumnya beragama berbeda--mayoritas telah merasa secara sah pula mendiaminya.
Muncul pula kecurigaan bahwa
pemerintah terlalu berpihak sebelah. Orang Moro yang kebanyakan hidup bertani
tak percaya pada pemerintah Filipina. Mereka lebih percaya pada para datuk yang
menjadi pemimpin lokal. Segala undang-undang dan hukum yang dikeluarkan
pemerintah cenderung diabaikan. Soal tanah, misalnya, mereka lebih mendengar
fatwa datuk. Sesuai tradisi, tanah adalah kepunyaan marga (clan) dan diatur
oleh datuk. Datuk pula yang berhak mengendalikan hukum adat, seperti tradisi
peradilan agama, poligami, perkawinan, dan perceraian. Sebaliknya, pemerintah menganggap umat Islam
Mindanao sengaja mengisolasi diri dari golongan lain. Mereka dituduh antipati
terhadap pemerintah, bahkan cenderung menunjukkan sikap bermusuhan. Pemerintah
merasa telah berusaha semaksimal mungkin untuk membangun Mindanao. Misalnya,
dengan mengadakan perbaikan di bidang kesempatan kerja, ekonomi, sosial, dan
budaya. Inilah, agaknya, yang perlu diurai: mendekatkan kesamaan dalam
perbedaan.
Kekecewaan terhadap kebijakan
pemerintah pada akhirnya melahirkan perlawanan baru. Dibentuklah apa yang
disebut sebagai Muslim Independent Movement (MIM) pada 1968 dan Moro Liberation
Front (MLF) pada 1971. Perkembangan berikutnya, MLF sebagai induk perjuangan
Bangsa Moro akhirnya terpecah: Moro National Liberation Front (MNLF) pimpinan
Nurulhaj Misuari dan Moro Islamic Liberation Front (MILF) pimpinan Salamat
Hashim. Namun, dalam perjalanannya, ternyata MNLF pimpinan Nur Misuari
mengalami perpecahan kembali menjadi kelompok MNLF-Reformis pimpinan Dimas
Pundato (1981) dan kelompok Abu Sayyaf pimpinan Abdurrazak Janjalani
(1993). Kini, melihat kondisi Muslim di
Filipina Selatan, ada yang menyebutnya sebagai minoritas di negeri sendiri.
bur/berbagai sumber
Copyright © 2015 republika.co.id,
All right reserved
Islam di Vietnam
Rep: rosyid
hakiim/ Red: Heri Ruslan
wikispaces.com
Bendera
Vietnam (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, Suara azan terdengar berkumandang
dari gang-gang padat penduduk di kota Ho Chi Minh, Vietnam. Sejumlah pria
dengan penutup kepala putih dan sarung berjalan menuju masjid. Pemandangan
yangi sangat umum di kota-kota di Indonesia itu juga terlihat di negeri
komunis, Vietnam.
Kaum Muslim di Vietnam hanyalah sebuah komunitas kecil. Sebagian besar dari mereka tinggal di daerah yang biasa disebut Distrik VIII. Dahulu, ketika wilayah itu masih bernama Saigon, daerah tersebut merupakan tempat generasi keturunan Kerajaan Campa tinggal. Sisa-sisa kerajaan itu masih ada di bagian tengah dan selatan Vietnam. Masyarakat dari kerajaan itu sering disebut sebagai orang-orang Cham.
Kaum Muslim di Vietnam hanyalah sebuah komunitas kecil. Sebagian besar dari mereka tinggal di daerah yang biasa disebut Distrik VIII. Dahulu, ketika wilayah itu masih bernama Saigon, daerah tersebut merupakan tempat generasi keturunan Kerajaan Campa tinggal. Sisa-sisa kerajaan itu masih ada di bagian tengah dan selatan Vietnam. Masyarakat dari kerajaan itu sering disebut sebagai orang-orang Cham.
Menurut kantor berita AFP, pada
tahun 2010 lalu, jumlah penduduk Muslim di daerah tersebut sekitar 1.300 jiwa.
Namun, menurut laman religiouspopulation.com, jumlah umat Islam di kota Ho Chi
Minh City mencapai 5.000 orang. Rumah makan yang menawarkan makanan halal
dan masjid-masjid raya serta madrasah juga banyak ditemukan. Beberapa dari murid-murid
di madrasah itu sering dikirim ke Malaysia untuk melanjutkan sekolah. Secara
umum, total populasi Muslim, terutama dari komunitas Cham, di negara yang
berpenduduk 86 juta orang itu sekitar 100 ribu orang. Namun, menurut hasil
survei yang dilakukan The Pew Research Center pada Oktober 2009, jumlah umat
Islam di Vietnam mencapai 71.200 jiwa. Anga itu naik dibandingkan data hasil
sensus pada 1999 yang hanya 63.146 jiwa. Sekitar 77 persen umat Islam di
Vietnam menetap di Wilayah Tenggara, yakni 34 persen tersebar di provinsi Ninh
Thuan Province, 24 persen di provinsi Binh Thuan, dan sebanyak 9,0 persen
di kota Ho Chi Minh. Sekitar 22 persen menetap di wilayah Delta
Sungai Mekong, khususnya di provinsi An Giang Province. Sisanya,
sekitar 1,0 persen Muslim tersebar di wilayah-wilayah lainnya di negeri itu.
Dahulu masyarakat Cham adalah
penganut agama Hindu dan telah menguasai bagian tengah dan selatan Vietnam
selama ratusan tahun. Seiring waktu, mereka memeluk agama Islam. Pada
akhir abad ke XV Kerajaan Campa tergusur ke arah selatan dan lama-lama
pengaruhnya semakin menghilang. Saat ini sekitar 80 persen masyarakat Cham sudah
menjadi Muslim. Berdasarkan data dari pemerintah, Islam adalah agama dengan
pemeluk terkecil dari enam agama yang berkembang di Vietnam. Kegiatan keagamaan
masih dikontrol oleh pemerintah Vietnam yang berhaluan komunis. Namun, kegiatan
ibadah bagi masing-masing agama berkembang dengan baik. Sebagai agama dengan jumlah pemeluk terkecil,
kaum Muslim di Vietnam memilih untuk terlalu menonjol. ‘’Kami hanya mengamalkan
dan menjalankan ajaran agama Islam. Kami (Muslim Vietnam) tak peduli dengan
urusan berbau politik,’’ ujar Haji Mousa, 52 tahun, pengelola sebuah madrasah
seperti dikutip laman muslimvillage.com. Mousa fasih berbahasa Melayu dan
mengenal bahasa Arab.
Menurut Mousa, imam-imam yang tampil sebagai pemimpin umat Islam, lebih banyak belajar di Vietnam. Beberapa imam dari luar negeri, terutama dari Malaysia, juga sering datang ke negaranya. Kini, di negara itu juga sudah ada Alquran dengan terjemahan bahasa Vietnam. Saat ini, setidaknya ada sekitar 16 masjid di kota Ho Chi Minh. Kebanyakan dari masjid tersebut didanai oleh negara-negara Muslim. Salah satunya, yaitu Masjid Jamiul Anwar yang dibangun pada 2006. Masjid itu didanai oleh Uni Emirat Arab dan Palang Merah.
Menurut Mousa, imam-imam yang tampil sebagai pemimpin umat Islam, lebih banyak belajar di Vietnam. Beberapa imam dari luar negeri, terutama dari Malaysia, juga sering datang ke negaranya. Kini, di negara itu juga sudah ada Alquran dengan terjemahan bahasa Vietnam. Saat ini, setidaknya ada sekitar 16 masjid di kota Ho Chi Minh. Kebanyakan dari masjid tersebut didanai oleh negara-negara Muslim. Salah satunya, yaitu Masjid Jamiul Anwar yang dibangun pada 2006. Masjid itu didanai oleh Uni Emirat Arab dan Palang Merah.
Meskipun mendapatkan dukungan dari
Timur Tengah, namun hubungan erat umat Muslim di Vietnam justru lebih terjalin
dengan Malaysia dan Indonesia. Karena mereka merasa lebih dekat secara
kultural. Hubungan erat itu dimulai sekitar 20 tahun yang lalu, saat Vietnam
secara bertahap membuka diri secara ekonomi. Seorang Muslim bernama Hachot,
mengaku dirinya tak merasa menjadi bagian dari masyarakat Vietnam yang lebih
luas, meskipun pemerintah telah membantu membangun kembali rumahnya beberapa
tahun yang lalu. Menurut dia, sikap kelompok mayoritas etnis Kinh terhadap Cham
oun amat beragam. ‘’Beberapa Kinh mengatakan Cham kotor,’’ ujarnya seperti
dikutip laman muslimvillage.com. Mereka keberatan dengan sikap Muslim yang
mengharamkan daging babi. Menurut laman dakwatuna.com, Islam yang berkembang di
Vietnam adalah beraliran Sunni dan Bani. Muslim Sunni yang tersebar di seluruh
penjuru negara itu bermazhab Syafi’i. Muslim Bani berkembang di daerah Ninh
Thuan dan Binh Thuan. Aliran ini tidak terlalu populer karena mengadopsi
pengaruh budaya domestik dan memiliki pengaruh kuat dari India.
Bahkan aliran Bani kerap dianggap
sedikit menyimpang dari ajaran Islam yang benar. Laman itu menyebutkan bahwa
penyimpangan yang dilakukan seperti menjadikan pemimpin untuk shalat mewakili
jamaah, tidak ada perhatian dari para pemimpin dengan jamaah mereka sehingga
menyebar di tengah mereka ajaran-ajaran syirik. Penyimpangan akidah ini
disebabkan oleh sedikitnya ulama dan dai. Pada 1959, masyarakat Vietnam,
terutama di wilayah Saigon, mulai melihat kembali ajaran Islam yang benar.
Ketika itu, di antara umat Muslim terjadi perkenalan dan dialog tentang Islam.
Sehingga muncul pemahaman tentang hakikat Islam yang sesungguhnya. Mereka
kemudian mulai memperbaiki diri dan mengajak masyarakat Muslim di negara itu
untuk kembali ke ajaran Islam yang benar. Meskipun pada awalnya mendapatkan
penolakan, akan tetapi usaha pembaharuan ini lama kelamaan semakin diterima.
Muslim di Vietnam pun sudah banyak yang menunaikan ibadah haji ke Tanah
Suci, Makkah.
Sertifikasi Halal
Muslim memang minoritas di Vietnam,
namun sertifikasi halal diberlakukan ketat di negeri ini. Negeri yang
perekonomiannya kini mulai menggeliat ini mulai menyasar ekspor ke
negara-negara mayoritas Muslim, menyasar 1,83 miliar Muslim di seluruh dunia. Mohammed
Omar, auditor utama Badan Sertifikasi Halal Vietnam (Viet Nam HCA), mengatakan
pasar halal global, memiliki nilai sebesar 2,77 triliun dolar AS.
"Sertifikasi halal adalah skema global untuk produk atau jasa. Ini adalah proses independen untuk memverifikasi bahan halal dan haram dan kondisi kemurnian diperlukan untuk memenuhi standar Alquran dan Syariah," ujar Omar.
"Sertifikasi halal adalah skema global untuk produk atau jasa. Ini adalah proses independen untuk memverifikasi bahan halal dan haram dan kondisi kemurnian diperlukan untuk memenuhi standar Alquran dan Syariah," ujar Omar.
Islam di Kamboja
Posted on March
27, 2015
SEBUAH masjid agung bergaya Ottoman dikabarkan telah
dibuka secara resmi oleh Perdana Menteri Kamboja Hun Sen. Peresmian ini
dihadiri oleh lebih dari 1.000 orang di ibukota, pada hari Jumat (27/3/2015).
Masjid yang bernama Al-Serkal Haram ini terletak di
kawasan Boeng Kak Phnom Penh. Masjid ini didanai oleh Eisa Bin Nasser Bin
Abdullatif Alserkal, seorang pengusaha Emirat. Masjid ini menggantikan masjid
yang pernah berdiri di sana sebelumnya, yang diruntuhkan pada tahun 2012.
Ahmad Yahya, presiden Organisasi Pembangunan Komunitas
Muslim Kamboja, menggambarkan masjid itu sebagai masjid “yang terbesar dan
paling indah”. Dikutip World Bulletin, Yahya menambahkan pembangunan
masjid telah menjadi penanda penting dalam kisah komunitas Muslim di Kamboja. Masjid
yang dibangun dengan dana sejumlah 2 juta USD ini, telah menarik ratusan orang
yang berkerumun di luar.
“Hun Sen mengatakan kepada orang banyak bahwa ia
bangga kepada Muslim Kamboja,” kata Yahya. Muslim Kamboja disebut sebagai
Cham dan pernah menjadi sasaran rezim Maois Khmer Merah pada 1970-an.
“Dia mengatakan umat Islam di Kamboja tidak memiliki
masalah, tidak ada pertempuran satu sama lain, tidak ada diskriminasi seperti
apa yang kita lihat antara Syiah dan Sunni Muslim di negara-negara lain … tapi
dia sangat bangga dengan umat Islam di Kamboja, sama bangganya terhadap umat
Buddha,” kata Yahya.
Mengacu pada desain masjid yang bergaya Ottoman, Yahya
mengatakan hal itu telah menjadi hit dan digemari banyak orang, khususnya
bagi orang-orang Muslim di Kamboja. [ds/islampos]
Islam di Thailand

Kehidupan
Islam di Negeri Gajah Putih
By Yuliana
Purnama 23 April 2011
Alhamdulillaah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah
wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in
Seperti telah kita ketahui bersama, Thailand adalah
negara yang sering dikenal sebaga negeri gajah putih. Negara ini juga terkenal sebagai
tujuan wisata para turis dari seluruh dunia. Bidang pertanian juga merupakan
salah satu andalan dari negeri ini. Hampir seluruh hasil pertanian dan
perkebunan yang berasal dari Thailand merupakan produk unggulan.
Secara umum, penduduk Thailand beragama Budha. Menurut
sensus penduduk pada tahun 2000, mayoritas warga Negara Thailand beragama Budha
(94,6%), kemudian Islam (4,6%), dan sisanya adalah Kristen dan Katolik [1].
Namun saat ini angka pemeluk agama Islam dipercaya melebihi angka 10%, atau sekitar
7,4 juta dari 67 juta jiwa penduduk Thailand . Hal ini menunjukkan bahwa
pertumbuhan pemeluk agama Islam di negeri ini terus meningkat.
Gambaran Umum Kehidupan Islam
Sebagian besar muslim di negeri ini tinggal di
Thailand bagian selatan, yang banyak berada di propinsi Yala, Narattiwat, dan
Pattani. Secara budaya dan penampakan fisik, mereka lebih dekat kepada
masyarakat Melayu. Jika kita melihat sejarah yang telah berlalu,
wilayah-wilayah tersebut tadinya bukan merupakan bagian dari Thailand. Namun
sejak tahun 1808, Thailand menjajah wilayah tersebut dan menjadikannya sebagai
wilayah kekuasaannya. Tentu saja banyak pertentangan yang terjadi karena Thailand
merupakan negeri Budha yang menganggap raja sebagai keturunan dewa. Sehingga
banyak ritual syirik yang bertentangan dengan Islam itu sendiri. Pemberontakan
pun pernah terjadi, dan hingga saat ini pun masih ada pertentangan-pertentangan
yang terjadi karena perbedaan prinsip tersebut.
Walaupun mayoritas muslim ada di bagian selatan
Thailand, namun bukan berarti di bagian lain Thailand tidak ada muslim. Katakanlah
Bangkok, ibukota Thailand. Di Bangkok, kita dengan mudah dapat menemui masjid.
Walaupun mayoritas muslim di Bangkok adalah pendatang dari bagian selatan
Thailand (secara fisik dapat dikenali dengan mudah, karena berdarah melayu),
namun cukup banyak juga muslim yang berdarah Thailand asli (biasanya berkulit
putih). Hal ini menunjukkan dakwah Islam berjalan dengan baik di Bangkok.
Apabila kita mendatangi masjid-masjid di Thailand,
kita akan menyadari bahwa banyak kemiripan kehidupan muslim di Thailand dan
Indonesia. Mayoritas muslim di Thailand adalah sunni bermazhab Syafi’i. Dan
secara umum, mereka mirip sekali dengan kaum Nahdliyin yang ada di negeri kita.
Dengan mudah kita temui acara dzikir berjama’ah , nasyid, dan berbagai macam
shalawat. Setiap masjid pun biasanya memiliki kyai yang diagungkan di situ.
Namun Alhamdulillah, dari kalangan pemuda
(kebanyakan mahasiswa) banyak yang rajin menuntut ilmu di manhaj salaf yang
mulia ini. Mereka cukup rajin mengadakan kajian-kajian ilmiah di masjid
walaupun terkadang bertentangan dengan pengurus masjid itu sendiri. Meskipun
mereka berhadapan dengan terbatasnya pustaka yang dapat mereka akses (karena
tidak semua bisa berbahasa Arab), namun mereka sangat bersemangat untuk
menegakkan Al-Quran dan Sunnah dengan pemahaman para salafus shalih.
Mereka pun menampakkan ke-Islam-an mereka dengan terang-terangan. Mereka
memelihara jenggot, tidak isbal, bahkan di kampus pun kita terkadang bisa
menemui saudari kita yang bercadar. Dan qadarullah, mereka pula-lah yang
menjadi salah satu penyebab penulis mendapatkan hidayah untuk istiqomah di
manhaj yang mulia ini.
Dukungan Kerajaan Thailand terhadap Islam
Meskipun Thailand merupakan negeri Budha, namun
kerajaan cukup mendukung kehidupan Islam para penduduknya. Tanggungjawab urusan
mengenai agama Islam di Thailand diemban oleh seorang mufti yang mendapat gelar
Syaikhul Islam (Chularajmontree). Mufti ini berada di bawah kementerian
dalam negeri dan juga kementerian pendidikan dan bertanggungjawab kepada raja.
Mufti bertugas untuk mengatur kebijakan yang berkaitan dengan kehidupan muslim,
seperti penentuan awal dan akhir bulan hijriyah.
Mufti membawahi dewan propinsial Islam yang
beranggotakan 26 orang dari tiap propinsi. Dan dewan tersebut membawahi sekitar
3494 masjid yang ada di Thailand [2]. Pusat dari kegiatan tersebut berada di
Bangkok, yaitu Islamic Center yang terletak di daerah Ramkhamhaeng.
Selain itu, di setiap Universitas biasanya terdapat Muslim Student Club.
Biasanya kelompok tersebut mendapat tempat khusus yang juga dapat digunakan
untuk melaksanakan shalat.
Secara umum, masyarakat Thailand juga sangat toleran
terhadap muslim. Mereka cukup peduli dengan makanan yang dapat kita makan, dan
mereka juga sangat mudah memberi izin untuk melakukan shalat. Namun karena
Thailand merupakan Negara Budha, sehingga hari besar kaum muslimin (Idul Fitri
dan Idul Adha) tidak mereka liburkan. Hal ini terkadang menjadi kendala bagi
para pelajar atau pegawai yang ingin melaksanakan sholat Ied berjama’ah. Namun
biasanya tiap institusi memberikan keringanan untuk “membolos” pada waktu-waktu
tersebut.
Makanan
Banyak orang mengira bahwa mencari makanan halal di
Thailand merupakan perkara sulit. Namun kenyataannya, makanan halal merupakan
hal yang mudah didapatkan di mana saja. Katakanlah jika kita pergi ke kantin
kampus. Biasanya di tiap kompleks kantin ada satu kios makanan halal. Jika kita
pergi ke pasar, biasanya ada penjual daging halal yang disembelih secara
syar’i. Jika kita ingin makan di warung halal sekalipun, kita cukup mencari masjid
yang terdekat. Biasanya di dekat masjid ada perkampungan muslim dan juga
penjual makanan halal. Di mall-mall sekalipun biasanya kita dapat menemukan
rumah makan halal.
Namun salah satu hal yang membuat muslim di Thailand
merasa aman akan ketersediaan makanan halal adalah adanya badan sertifikasi
halal yang sangat kuat. Dengan mengakses www. Halal.or.th saja kita sudah dapat
menemukan list produk dan restoran halal yang ada di Thailand. Bahkan
produk-produk kemasan yang ada di supermarket pun sudah banyak yang
bersertifikat halal yang dikeluarkan oleh badan tersebut. Sehingga muslim di
Thailand dapat dengan leluasa memilih mana yang bisa dimakan dan tidak.
Salah satu orang yang berjasa di bidang sertifikasi
halal ini adalah Winai Dahlan, seorang associate professor di
Chulalongkorn University. Beliau merupakan cucu dari KHA Dahlan. Beliau saat
ini adalah direktur dari Halal Science Center di universitas tersebut. Beliau
sangat giat melakukan promosi mengenai makanan halal ke seluruh dunia. Bahkan
bisa dikatakan kemajuan mengenai makanan halal di Thailand sudah selangkah
lebih maju dibandingkan Indonesia karena promosi gencar yang mereka lakukan.
Menjadi seorang Muslim di Thailand
Paparan di atas menunjukkan berbagai macam gambaran
kehidupan muslim di Thailand. Namun secara umum, hidup menjadi seorang muslim
di Thailand penuh dengan perjuangan yang berat.
Seperti kita ketahui bahwa Thailand merupakan negeri
yang bebas. Mayoritas penduduknya menyukai kehidupan malam, pergaulan bebas,
dan minum minuman keras. Selain itu dentuman musik dapat kita temui di mana
saja. Para pemudi pun berpakaian sangat minim. Bagi seseorang yang sedang lemah
imannya, tentu saja serbuan kemaksiatan yang ada di lingkungan merupakan
tantangan yang berat.
Secara kepercayaan pun, kita dapat menemui praktik
syirik tersebar di mana-mana. Hampir di setiap rumah ada kuil kecil di mana
mereka meletakkan sesaji. Bahkan biasanya para pedagang pun meletakkan sesaji
itu di toko mereka. Pengagungan mereka pada kerajaan pun sudah melampaui batas.
Raja dianggap sebagai keturunan dewa sehingga mereka menjadikannya sesembahan.
Biksu pun mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa. Mereka akan memberikan
apapun jika bertemu biksu, hanya untuk mendapatkan berkat dari mereka. Tentu
saja praktik syirik yang bertebaran di seluruh bumi Thailand ini terus
bertentangan dengan hati kaum muslimin.
Karena itu, biasanya kaum muslimin di Thailand hidup
berkelompok supaya dapat saling menjaga. Di dekat masjid biasanya ada
perkampungan muslim. Selain itu, ada juga beberapa daerah di Bangkok yang
memiliki persentase penduduk muslim yang cukup besar. Mereka berusaha membuat
lingkungan yang baik supaya dapat hidup di luar gelimang kemaksiatan tadi.
Terkadang kelompok-kelompok yang hidup di beberapa
daerah tersebut berkumpul karena kesamaan suku. Ada daerah di Bangkok yang
bernama Kampung Jawa. Di daerah tersebut, penduduknya merupakan keturunan jawa
yang sudah turun temurun tinggal di sana. Di kampung tersebut terdapat Masjid
Jawa. Selain itu ada juga Masjid Indonesia. Ada cukup banyak warga keturunan
yang berasal dari banyak negara dan membentuk komunitas sendiri. Hal itu tidak
lain adalah upaya mereka untuk saling menjaga dari kehidupan budaya yang sangat
berbeda dengan nilai Islam. Biasanya mereka sudah lupa dengan bahasa dari
negeri mereka masing-masing. Seperti Winai Dahlan yang telah disebutkan
sebelumnya, juga tidak bisa berbicara Bahasa Indonesia sama sekali.
Alhamdulillah, demikianlah kehidupan Islam di Negeri Gajah Putih.
Barangkali kita tadinya tidak menyangka bahwa kita memiliki saudara-saudara
yang terus berjuang hidup sambil mempertahankan aqidahnya di negeri kafir ini.
Semoga hal ini membuat kita semua untuk senantiasa bersyukur dan juga semakin
bersemangat menuntut ilmu. Mereka dengan segala keterbatasan fasilitas yang
ada, masih terus berusaha mencari kebenaran dalam memahami dienul Islam ini.
Semoga Allah selalu menjaga saudara-saudara kita ini. Dan semoga Allah senantiasa
memberikan petunjuk kepada kita semua.
Penulis: Fikri Waskito (mahasiswa Chulalongkorn
University, Thailand)
Artikel www.muslim.or.id
Islam di Malaysia
Sri Lestari
Jurnalis BBC Indonesia
Image
caption Masjid Cina Negeri Malaysia didirikan untuk menampung warga keturunan
Cina di Malaysia yang menjadi mualaf.
Kaum muslim keturunan Cina di Malaysia mengaku masih
mengalami diskriminasi lantaran pemerintah meminta mereka mengganti nama dengan
nama Arab atau Melayu ketika memeluk agama Islam.
Di Masjid Negeri Cina Malaka, saya bertemu dengan dua
mualaf yang baru pertama menjalankan puasa Ramadan tahun ini, yakni Muhammad
Thaufiq Loi Fui Liang dan Ting Swee Keong.
Meski keduanya keturunan Cina, ada perbedaan dalam
soal pemilihan nama setelah menjadi mualaf.
Muhammad Thaufiq menambah nama Arab di depan nama
aslinya, sedangkan Ting tidak.
“Semua harus diubah. Nama menjadi lain, namun muka
masih sama. Di sini orang Malaysia mengatakan jika seseorang masuk Islam
disebut masuk Melayu. Kalau saya tak ganti nama, saya tetap Cina,” jelas Ting.
Image
caption Presiden MACMA Malaysia Taufiq Yap Yun Hin memutuskan untuk menambah
nama Arab di depan nama aslinya.
Meski tak ada aturan tertulis, pergantian nama
seseorang yang menjadi mualaf dengan nama Arab atau Melayu merupakan tradisi
yang telah berlangsung sejak Malaysia merdeka pada 1957 lalu.
Lim Jooi Soon, pengurus Asosiasi Muslim Cina Malaysia,
MACMA Malaka, mengatakan tradisi pergantian nama bagi mualaf ini masih
dipraktikkan oleh sejumlah petugas di kantor Majelis Agama di sejumlah negara
bagian di Malaysia karena ketidakpahaman mereka.
“Mereka mempraktikkan itu karena tidak memahami.
Padahal, kalau kita ikut sunnah Nabi pada zaman Nabi Muhammad SAW, ketika kaum
lain masuk Islam, dia tidak meminta orang itu mengganti nama kecuali artinya
buruk,” kata Lim.
Dia kemudian mencontohkan tokoh Islam Bilal Al Rabah
dari Afrika dan Salman Al Farisi dari Persia.
“Sebelum mereka memeluk Islam dan sesudah mereka masuk
Islam, nama mereka sama. Kenapa? Karena memudahkan mereka berdakwah di hadapan
bangsa yang sama,” jelas Lim.
Raja-raja yang mencerminkan Dzulqarnain Bag.1
Koresh yang Agung
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Rajadiraja Persia, Raja Aryavarta, Raja Anshan,
Raja Media, Raja Babel,
Raja Sumeria dan Akkadia,
"King of the Four Corners of the World"
Masa kekuasaan 559
SM – 530 SM (30 tahun)
Lahir 600
SM or 576 SM
Tempat lahir Anshan, Persi
Wafat 4
Desember 530 SM
Tempat wafat Along
the Syr Darya
Cyrus
the Great adalah pendiri Kekaisaran Persia. Ia memulai kariernya selaku pejabat rendahan di bagian barat daya Iran, dia mendapat banyak kemenangan lewat pertempuran dan
menguasai tiga kerajaan besar yaitu;Media, Lydia dan Babilonia. Ia juga
menyatukan hampir seluruh daerah
Timur Tengah lama menjadi satu negara yang
membentang mulai India hingga Laut Tengah. Raja ini disebut namanya dalam
ALkitab Ibrani atau Perjanjian Lama di
Alkitab Kristen karena
titahnya untuk mengembalikan orang-orang buangan, termasuk bangsa Yahudi,
kembali ke tanah air masing-masing, serta mengijinkan orang-orang Yahudi membangun
kembali Bait Suci di Yerusalem (Yesaya 45;13; 2 Tawarikh
36 : 22 36’) Titah itu ditulis antara lain dalam Silinder Koresh, yang ditulis tahun 539 SM dan saat ini disimpan di BritishMuseum, London.
Latar belakang
Koresh (atau
Kurush nama Persianya, dalam bahasa InggrisInggris Cyrus) dilahirkan sekitar tahun 576 SM di provinsi Persia (kini Fars), di barat
daya Iran. Daerah ini saat itu merupakan provinsi kerajaan Media. Koresh berasal dari keturunan penguasa lokal yang
merupakan bawahan Raja Media.
Kudeta Kerajaan
Media oleh Koresh
Meskipun
ayahnya, Cambyses I, mati tahun 551 SM, Koresh sudah memerintah sejak tahun 559
SM sebagai raja muda. Bersama panglima kerajaan Media yang membelot, Harpagus,
Koresh memberontak terhadap raja
Astyages mulai musim
panas tahun 553 SM, dengan peperangan pertama pada awal tahun 552 SM. Harpagus
dan Koresh merebut ibukota Media,
Ekbatana, tahun 549 SM,
dan menjadi raja atas seluruh tanah Media dan Persia. Raja Asyages diberi ampun
dan dijadikan gubernur salah satu propinsi. Pada tahun 546 SM, Koresh resmi
memakai gelar "Raja Persia". Pamannya, Arsames, yang menjadi raja
kota Persepolis (Parsa) di bawah kerajaan Media, nampaknya dengan damai
menyerahkan kekuasaannya kepada Koresh dan menjabat sebagai gubernur Parsa di
bawah kekuasaan Koresh. Putra Arsames, Hystaspes (ayah dari DariusI), yang juga sepupu Koresh, dijadikan wakil raja (satrap)
dari Parthia dan Phrygia. Jadi Koresh menyatukan kerajaan kembar Akhemeniyah yaitu Parsa dan Anshan menjadi
Kekaisaran Persia. Arsames masih
hidup saat cucunya Darius I menjadi raja Persia, setelah matinya
kedua anak Koresh.
Penyerangan ke Kerajaan Lydia
Saudara ipar Astyages, raja Kroesus dari
Lydia, pertama-tama menyerang kota Pteria
(sekarang di Turki), rupanya sebagai balas dendam atas kekalahan Astyages. Koresh membawa tentara untuk menyerang Pteria tahun 546 SM. Kroesus
mundur ke Sardis, ibukotanya
pada keesokan harinya. Koresh kemudian
mengepung kota Sardis. Harpagus menasehatkan Koresh untuk menempatkan
onta-ontanya di depan tentaranya. Kuda-kuda Lydia tidak terbiasa membau onta,
menjadi takut, sehingga Koresh dapat mengalahkan tentara Lydia dengan mudah.
Koresh menangkap Kroesus dan menguasai kota Sardis. Menurut penulis sejarah
Yunani, Herodotus, Koresh mengampuni Kroesus dan menjadikannya penasehat, namun
menurut Tawarikh Nabonidus, raja Lydia dibunuh oleh Koresh.
Penyerangan ke
Kerajaan Babilonia
Diproyeksikan ke batas modern, kerajaan
Achaemenid di bawah Koresh membentang dari Turki, Israel, Georgia dan Arabia di barat sampai ke Kazakhstan, Kyrgystan, Sungai Indus ( Pakistan) dan Oman di timur. Persia
menjadi kerajaan terbesar di dunia.
Tahun 540 SM,
Koresh merebut Elam (Susiana) dan ibukotanya, Susan.
Tawarikh Nabonidus, mencatat bahwa sebelum perang itu,
Nabonidus memindahkan patung-patung dewa ke dalam ibukota Babilon, sehingga
diperkirakan perang dimulai pada musim dingin 540 SM. Harran Stelae H2 - A, dan Tawarikh Nabonidus (tahun ke-17) menunjukkan Nabonidus merayakan
tahun baru Akitu pada tanggal 1
Nissanu (4 April 539
SM) di Babilon. Di awal Oktober 539 SM, Koresh mengalahkan tentara Babel dalam
Perang Opis, dengan sungai Tigris, di utara Babilon. Tanggal 10 Oktober, kota Sippar jatuh tanpa perlawanan berarti.
Tanggal 15 Oktober, Gubaru, panglima Koresh, memasuki ibukota Babilon, tanpa
perlawanan berarti dari tentara Babel.
Herodotus menjelaskan bahwa tentara Persia
menggunakan danau yang dibuat oleh ratu Babel, Nitokris, tadinya untuk
melindungi Babilon dari serangan kerajaan Media, untuk membelokkan aliran
sungai Efrat, ke dalam kanal sehingga tinggi air
tinggal selutut. Ini memudahkan tentara Persia untuk masuk kota melalui sungai
pada waktu malam. Hal ini tidak berbeda dengan catatan dalam Kitab Daniel, bahwa raja Belsyazar dibunuh oleh tentara Persia pada waktu malam tanpa peperangan besar (Daniel 5:8). Pada tanggal
29 Oktober, Koresh masuk kota Babilon.
Politik dan
pemerintahan
Koresh adalah
seorang pemimpin yang punya kebolehan bidang militer. Tetapi itu cuma satu sisi
dari seorang manusia. Yang lebih menonjol, mungkin, adalah
kebijakan cara memerintahnya. Dia terkenal amat toleran terhadap Agama-agama setempat dan juga adat-istiadat mereka. Dan dia
senantiasa menjauhkan diri dari sikap kejam dan ganas seperti lazimnya para
penakluk. Orang-orang Babilonia, misalnya, bahkan lebih kentara lagi orang Assyria, telah membunuh beribu-ribu manusia dan mengusir semua penduduk yang dikuatirkan bakal
berontak. Misalnya, ketika Babilonia menaklukkan Yudea tahun 586 SM, mereka memboyong orang
Yudea ke Babilonia.
Tetapi lima puluh tahun kemudian, sesudah Koresh menaklukkan Babilonia, dia
beri ijin orang-orang Yahudi kembali ke kampung halamannya. Kalau
tidak karena Koresh, rasanya orang-orang
Yahudi itu akan musnah
sebagai kelompok yang terasing di abad ke-5 SM.
Akhir hayat
Tulisan kuneiform dari Babilon memberi bukti bahwa Koresh mati
sekitar Desember 530 SM, yaitu dari tulisan terakhir mengenai pemerintahannya,
(lempengan dari Borsippa tertanggal 12 Agustus 530 SM) dan referensi pertama
mengenai pemerintahan putranya,
Cambyses II (lempengan dari Babilon tertanggal 31
Agustus 530 SM) yang menggantikannya sebagai raja.
Makam
Makam Koresh di Pasargadea, Iran, sebuah tempat pelestarian dunia (World Heritage Site)
oleh UNESCO (2006).
Makamnya
terletak di ibukota Pasargadaea (dibangun sekitar 530 SM) yang masih ada sampai
sekarang. Penulis sejarah, Strabo dan Arrian mencatat gambaran yang hampir sama tentang
makam ini berdasarkan laporan
Aristobulus dari Cassandreia, yang atas
perintah Iskandar
Agung mengunjungi
makam ini 2 kali. Menurut
Plutarch, batu nisannya
bertuliskan.
“ O insan, siapapun engkau dan darimanapun engkau datang,
karena aku tahu engkau akan datang, akulah Koresh yang memenangkan kerajaan untuk
orang-orang Persia. Karenanya janganlah berkeberatan terhadapku akan sedikit
tanah ini untuk menutupi tulang-tulangku. “
Daerah
kekuasaan pada puncak kejayaannya
2.Kerajaan Babilonia di Mesopotamia
(wilayah Irak sekarang ini)
3.Suriah dan Palestina
4.Mesir
5.beberapa daerah di timur laut dari
kerajaan Media (Asia Tengah), didapatnya dari menaklukkan Massage Tae, suku
nomad yang hidup di Asia Tengah sebelah timur laut Kaspia
6.Kerajaan Lidia di Asia Kecil (wilayah
Turki sekarang ini)
7.sebagian negara Pakistan dan Afganistan
sekarang ini
8.Sedikit daerah India
Relief yang mengambarkan Khores Agung dengan
mahkota bertanduk dua.
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)















